Selasa, 16 Juni 2009

Perjudian Bisnis Dua Mantan Top Profesional di Bidang Migas

Setelah malang melintang sebagai profesional top di perusahaan migas multinasional, W. Yudiana Ardiwinata dan Sammy Hamzah memberanikan diri terjun sebagai pengusaha migas di bidang yang sama sekali baru: coal bed methane. Bagaimana kans mereka di bisnis berisiko tinggi ini?
Pengalaman adalah guru terbaik. Ungkapan bijak ini menjadi pegangan W. Yudiana Ardiwinata dan Sammy Hamzah untuk banting setir dan pindah kuadran. Bermodal pengalaman mereka yang panjang di perusahaan migas multinasional, plus pengetahuan dan jejaring yang luas, keduanya mengikat janji mengembangkan bisnis bersama.
Di industri migas, mereka berdua memang sarat pengalaman dan sama-sama eksekutif top. Terakhir, mereka bertemu dan berkolaborasi dalam satu grup usaha migas di bawah naungan raksasa minyak Chevron Corporation. Yudi memegang posisi Presdir PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), adapun Sammy sebagai VP Senior Business Services Chevron IndoAsia Business Unit. Seperti bisa dibaca dalam Wikipedia, CPI adalah anak perusahaan Chevron Corporation yang menggarap minyak di Riau. Sebelum diambil alih Chevron, perusahaan ini bernama Caltex Pacific Indonesia. CPI merupakan perusahaan minyak kontraktor terbesar di Indonesia, dengan produksi mencapai 2 miliar barel. Tahun 2005, Caltex diakuisisi oleh Chevron. Maka, sejak itu nama PT Caltex Pacific Indonesia resmi berubah menjadi PT Chevron Pacific Indonesia.
Dalam struktur organisasinya, CPI merupakan salah satu perusahaan di bawah payung Chevron IndoAsia Business Unit. Lebih lengkapnya, Chevron IndoAsia Business Unit mencakup bisnis migas yang membawahkan beberapa perusahaan, yakni: Chevron Indonesia Company (dulu bernama PT Unocal Indonesia); Chevron Pacific Indonesia; Chevron Makassar Ltd.; serta bisnis panas bumi yang digarap oleh Chevron Geothermal Indonesia, Chevron Geothermal Salak, Mandau Cipta Tenaga Nusantara, dan Chevron Geothermal Phillipines.
Bergabungnya biduk tempat Yudi dan Sammy berkarier membuat hubungan keduanya makin erat. Hingga tercetus suatu keinginan bersama untuk membentuk perusahaan sendiri. Tak mau menyia-nyiakan perjalanan karier mereka selama ini, bisnis yang mereka kembangkan tidak jauh dari kompetensi inti dan kapabilitas mereka, yakni bidang migas.
Sebelum memutuskan mendirikan usaha sendiri, Yudi sempat menolak tawaran jabatan komisaris CPI untuknya. Ia memilih mengundurkan diri. Begitu pula dengan Sammy. “Saya sudah menjadi profesional dan bekerja di perusahaan orang lain lebih dari 16 tahun. Jadi sekarang waktu yang tepat untuk mengembangkan bisnis sendiri,” ujar Sammy tegas.
Di Jl. Kemang Selatan 1E No. 17 Jakarta, embrio perusahaan dirumuskan. Di situ mereka banyak melakukan brainstorming dan perumusan konsep. Visi mereka adalah melahirkan perusahaan nasional pertama yang menggarap bisnis energi gas metana batu bara – yang lebih populer disebut coal bed methane (CBM).
Pada akhir 2005 berdirilah PT Energi Pasir Hitam Indonesia (Ephindo), dengan komposisi saham fifty-fifty. Yudi sebagai Chairman dan Sammy sebagai Presiden & CEO. Ternyata, Ephindo bukan satu-satunya perusahaan yang mereka besut. Menurut Yudi, ada dua jenis bisnis lain di industri migas yang juga mereka garap, yakni bidang offshore deep sea water di bawah PT Black Gold Energy; dan jasa survei seismic marine lewat PT Emas Putih bekerja sama dengan BPPT dan Elnusa.
Mengapa Ephindo sebagai perusahaan utama mereka memilih CBM? Keduanya berkeyakinan bahwa potensinya masih sangat besar dibanding potensi migas konvensional yang tersisa. Dijelaskan Yudi, batu bara memang banyak mengandung gas, tapi gas yang ada di permukaan tambang batu bara, sudah keluar lebih dulu. Nah, CBM itu letaknya di dalam rekahan batu bara, yang dalamnya bisa 500 meter lebih, dan biasanya terselimuti air. Kalau dibor dengan cara dewatering, airnya akan tersedot membuat tekanannya menurun, sehingga gasnya keluar. “CBM merupakan proyek yang potensial, karena menjadi energi alternatif dari gas konvensional,” ucap Sammy, yang juga pendiri CBM Advisory Board.
Menurut penelitian Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Ditjen Migas Departemen ESDM, potensi CBM di Indonesia cukup luar biasa, mencapai 453,3 triliun kaki kubik (TCF). Sayangnya, masih sedikit pemain migas nasional yang menyatakan minatnya. Jadi boleh dibilang, Ephindo merupakan pionir. Padahal, di negara lain seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, India dan Cina, pengeboran CBM sudah dilakukan.
Selain potensinya masih sangat besar, berdasarkan sebuah hasil riset, CBM secara relatif bukan pula termasuk bisnis migas berbiaya tinggi. Bandingkan dengan unit bisnis migas konvensional, yang membutuhkan teknologi baru dan investasi besar. Contohnya, investasi untuk bisnis deep sea water bisa mencapai US$ 200 juta per sumur; sedangkan investasi untuk CBM hanya US$ 500 ribu-1,5 juta per sumur. “Bisnis ini cocok bagi perusahaan kecil seperti kami, karena tidak perlu investasi gila-gilaan,” ucap Sammy.
Meskipun menjanjikan keuntungan yang besar, diakui Sammy, risikonya cukup tinggi. Pasalnya, sebagai pemain mereka belum mengetahui persis seberapa besar kandungan gasnya. Solusinya, perusahaan harus bisa memperbaiki informasi tentang besarnya cadangan (reservoir). Dengan informasi yang ada saat ini Ephindo dituntut bisa membuktikan bahwa potensi CBM bisa dimanfaatkan secara komersial. “Itu pekerjaan rumah yang akan kami lakukan,” kata pria kelahiran Jakarta 24 Januari 1963 dan mantan suami artis Desy Ratnasari itu.
Sebenarnya, untuk merangsang minat perusahaan lain terjun ke CBM, pemerintah telah memberikan tawaran split (bagi hasil) yang cukup menarik dalam kontrak, yakni 55% pemerintah dan 45% kontraktor. Bandingkan untuk migas, yang split-nya 70%:30% hingga 35%:65%, tergantung tingkat kesulitannya. “Pemerintah memberikan split yang lebih bagus dari bisnis migas (konvensional), karena CBM belum pernah dilakukan,” ujar Yudi.
Kendati CBM merupakan garapan bisnis baru dan risikonya tinggi, keduanya tetap optimistis Ephindo mampu. Sebab, diklaim Yudi, Ephindo memiliki mitra yang berpengalaman dan ahli di bidangnya. Saat ini, Ephindo sedang dalam proses due diligence dengan Arrow Energy, perusahaan asal Australia yang berpengalaman di proyek CBM. “Dengan adanya partner yang tangguh dan orang yang ahli, kami optimistis ini akan berhasil,” kata pria kelahiran Garut 6 November 1949 ini.
Selain itu, optimisme Yudi juga karena ditopang pengalaman dan jejaring yang luas. “Saya tahu siapa-siapa saja orang yang dibutuhkan dan harus dihubungi,” bapak tiga anak dan kakek lima cucu ini menandaskan. Ditambahkan Sammy, integritas dan konsistensi juga akan menjadi kunci keberhasilan mereka menekuni bisnis CBM ini.
Rencananya, Ephindo siap melakukan proyek pengeboran CBM mulai 2009 ini di Kalimantan dan Sumatera. Menurut Yudi, nilai proyek Sangatta Block di Kal-Tim mencapai US$ 6 juta. Nantinya, bersama dengan Pertamina, Ephindo akan menggandeng Arrow Energy. Sementara itu, proyek di Sekayu Block Sum-Sel ada dua sumur yang akan digali. Pengerjaan proyeknya bekerja sama dengan Medco dan McLaren Resource Inc. “Investasinya memang sangat besar. Selain dari kantong perusahaan sendiri, pendanaannya juga melalui kerja sama dengan beberapa partner,” ungkap Yudi.
Meskipun fokus pada CBM, Ephindo masih memegang pula proyek migas konvensional di Kutai Block, Kal-Tim. Tahun ini, bekerja sama dengan Serica Energy dan Salamander Energy, Ephindo hendak melakukan drilling (pengeboran) yang nilainya hingga US$ 3 juta. “Jika hasil bornya bagus, kami bisa lebih besar lagi karena ada offshore dan onshore,” katanya penuh harap.
Tak hanya itu. Ephindo pun punya rencana melebarkan sayapnya ke bisnis turunan migas, seperti SPBG, antara lain dengan menjadi agen Pertamina. “Kami terus berupaya melihat berbagai peluang. Termasuk sedang menjajaki masuk ke bisnis LPG untuk mendirikan SPBG,” ungkap Yudi. Lewat dua anak perusahaannya, Ephindo sudah mendapat izin mendirikan SPBG di Sukabumi dan Palembang.
Kolaborasi Yudi dan Sammy, dalam penilaian Noke Kiroyan, merupakan pasangan sempurna untuk membangun perusahaan migas. Menurut mantan Presdir Kaltim Primacoal ini, sosok Yudi tidak perlu diragukan lagi di bidang migas. Adapun Sammy, Noke mengaku sudah kenal lama ketika satu perusahaan di Siemens di mana Sammy menjabat Direktur Eksekutif Keuangan dan Administrasi. “Mereka adalah kombinasi yang baik. Pak Yudi berpengalaman dalam migas. Satu lagi eksekutif yang andal dalam administrasi dan keuangan,” ujar Noke memuji.
Noke melihat prospek Ephindo ke depan bakal sangat bagus dari dua bidang yang digeluti. Pertama, ia menilai bisnis CBM merupakan hal yang baru tapi sangat menjanjikan. Kedua dari migas, bidang ini sangat cocok dengan keahlian dua pendiri perusahaan. “Mereka sangat jeli melihat peluang,” ujar Noke.
Di mata Budi Basuki, salah satu mitra bisnis Ephindo, Yudi dan Sammy merupakan profesional yang telah membuktikan keberhasilannya memimpin perusahaan minyak besar dan terpandang. Menurut Budi, mereka berdua juga aktif di berbagai organisasi profesi atau asosiasi di bidang migas. “Proyek CBM Ephindo bersama Medco di Sum-Sel sangat baik, tidak hanya karena potensi cadangannya yang besar ataupun lokasinya yang dekat infrastruktur pipa gas, melainkan pula sebagai perusahaan yang pertama kali mendapatkan blok CBM yang dimotori oleh orang-orang yang sangat berpengalaman di industri migas,” papar Direktur Aset Produksi PT Medco E&P Indonesia, memberi penilaian. Menurut Budi, Medco tertarik untuk melakukan kerja sama setara dengan Ephindo yang sebenarnya perusahaan baru seumur jagung, karena melihat kompetensi pemimpinnya, begitu pula kapabilitas perusahaan yang mempunyai kesamaan tujuan untuk mengembangkan potensi CBM.
Ungkapan senada dikemukakan Pudjo Suwarno. Menurut Direktur Operasional PT MedcoEnergi CBM Indonesia ini, tidak banyak pengusaha nasional yang secara pribadi berani mempertaruhkan uang (aset)-nya untuk terjun ke dunia migas yang penuh resiko. Terutama CBM yang di Indonesia masih sangat baru, berisiko tinggi dan belum ada yang benar-benar mempunyai pengalaman. “Saya pikir, kedua sosok itu merupakan orang-orang yang serius dan berkomitmen terhadap pengembangan industri migas, khususnya CBM,” ucap Pudjo.
Pudjo juga melihat, mereka memulai terjun ke industri migas ini dengan benar, yakni melalui kemitraan. Terutama dengan pemain nasional yang sudah cukup kuat. “Mereka memberi banyak masukan pemikiran untuk membuat industri ini lebih baik dan menarik bagi para investor,” katanya lagi menilai.
Sumber: SWA - Kamis, 02 April 2009
Oleh : A. Mohammad B.S. & Moh. Husni Mubarak

1 komentar:

  1. “A leader in well testing and early production facilities for the oil & gas industry”

    As a group company with world-class capabilities in well testing and fluid, our top priority is to offer the best service for business-based energy and resources in Indonesia. Dwipa Group was established as a company providing Non Destructive Testing for the oil and gas industry. We believe that through commitment, determination and passion for growth, opportunities are endless.

    BalasHapus